Mendaki Gunung Ciremai Melalui Jalur Palutungan

By | 31/08/2020

Sore menjelang.. setelah sholat Ashar, kami bergegas meninggalkan kantor. Menuju Stasiun Cikini untuk menuju Stasiun Bekasi, rencananya kami akan melanjutkan perjalanan menuju ke Kuningan dengan menggunakan Bus dari Terminal Bekasi. Kali ini kami ingin menikmati jalan setapak mendaki ke puncak Ciremai. Naik Gunung lagi ?? yaa… kita naik gunung lagi..

Kereta sore itu cukup padat, mungkin karena hari Jumat. Hari kerja terakhir pada setiap minggunya sehingga menyebabkan banyak orang yang ingin pulang setelah bekerja di Jakarta seminggu penuh, atau mungkin ada yang sudah sebulan penuh bekerja dan belum sempat pulang karena jarak rumahnya yang terlalu jauh. Berhimpitan di dalam gerbong kereta tak lagi kami perdulikan, kami menikmatinya sebagai bagian dari perjalanan yang kami rindukan. Mungkin itulah bedanya para pendaki gunung, bahkan proses perjalanannya saja sudah terasa mengasyikkan padahal masih di area yang setiap hari kami lalui… mugkin semangat dan motivasinya yang berbeda sehingga terasa lebih gokil dan asyik dari biasanya…

Tiba di Stasiun Bekasi sudah menjelang Magrib, gelombang manusia tumpah ruah dari dalam gerbong kereta dan kondisinya betul-betul penuh sesak. Orang berjalan menuju pintu keluar Stasiun berdesakan dengan berjalan perlahan. Dengan keril besar di punggung kami berjalan perlahan mengikuti arus, dan akhirnya tiba di pintu keluar Stasiun Bekasi. Ternyata di luar Stasiun tak kalah semarak ramai barisan angkot yang ‘ngetem” menyebabkan kemacetan. Lalu lalang orang-orang lelah mencari nafkah berebut jalan dengan kendaraan yang merayap perlahan. Kami naik angkot tujuan Terminal Bis Bekasi yang berjarak kurang lebih 20 menit dari Stasiun kereta dan tetap dengan semangat membara..

Setibanya di Terminal bis Bekasi kami bergegas mencari Bus dengan tujuan Kuningan. Alhamdulillah tak seberapa lama kami mecari ada Bus AC dengan tujuan Kuningan yang akan berangkat pukul 19 tepat, tanpa pikir panjang kamipun segera naik. Keril besar kami di masukan kedalam Bagasi Bis, sebelum berangkat kami mebeli air dan cemilan berupa roti maklum kami kan belum makan malam. Karena kami belum pernah ke gunung Ciremai, saya sampaikan kepada kondektur Bus bahwa kami mau turun di Cirendang, dan dari sana kami akan menuju ke rumah teman yang ada di Cikadung. Ongkos bus nya 70 ribu, oh iya ongkos Angkot dari Stasiun Bekasi ke Terminal Bekasi 5 ribu rupiah. Bus melaju tepat pukul 19, membelah kemacetan jalan raya Bekasi menuju ke Tol.. entahlah kami tak memperhatikan.. kami hanya berusaha istirahat saja sampai nanti tiba di Cirendang..

kami turun setelah tiba di pom bensin cirendang.. beristirahat sejenak kemudan melanjutkan perjalanan menuju rumah seorang teman dengan menggunakan grabcar.. Jalanan cukup lengan karena memang sudah lewat tengah malam.. mobil yang kami tumpangi meluncur cepat di jalanan mulus yang remang-remang.

Beberapa kali memastikan melalui wa dan telpon bahwa kami tidak salah alamat kepada teman kami.. Ternyata memang ga ketemu-ketemu alamatnya.. beberapa kali terlewat. Akhirnya kami putuskan turun saja karena si sopir grabcar juga ga tahu dengan alamat kawan kami tersebut. Setelah kami pastikan bahwa kami kembali terlewat dengan jalan masuk ke perumahan kawan kami tersebut, akhirnya kami turun dan berjalan kaki menuju jalan masuknya, menyusuri jalan lebar yang bagus tapi tidak terang karena lampu jalannya yg terlalu remang.

Tak lama kemudian, kawan kami Tofik datang dengan sepeda motornya membonceng kami satu persatu menuju kerumahnya untuk bisa rehat malam itu sebelum besok pagi kita memulai perjalanan mendaki gunung ciremai gunung tertinggi di Jawa Barat

Pagi hari setelah selesai sarapan dan melengkapi logistisk yang diperlukan selama pendakian kamipun berangkat menuju pos palutungan menggunakan grabcar dengan ongkos 50 ribu kami di antar sampai ke bascemap pendaftaran palutungan. Untuk tiket pendakian seorang dikenakan biaya 60 ribu plus tiket makan gratis di warung-warung sekitaran bascamp. Karena kami sudah sarapan kami sepakat menggunakan tiket makan tersebut nanti ketika turun dari ciremai.

Setelah semua urusan selesai kamipun bergerak dari basecamp menuju pintu masuk palutungan. Jalan yang landai tapi menanjak melalui rumah-rumah penduduk dan persawahan, udara yang segar dan sinar matahari yang hangat mengiringi langkah santai kami untuk masuk ke hutan gunung ciremai. Pintu masuk jalur palutungan di tandai dengan sebuag gapura yang di atasnya ada patung lutung sebagai icon yang sesuai dengan nama jalurnya. Memang di jalur pendakian ciremai lewat palutungan ini kita akan menjumpai kawanan lutung dan surili yang akan dapat kita lihat di pepohonan yang kita lalui. Biasanya mereka hidup berkelompok dan kita akan mendengar suaranya yg khas.

Dari Basecamp hingga kami tiba di Pos 1 Cigowong kurang lebih membutuhkan waktu 2 jam dengan berjalan santai saja. Ps Cigowong ini adalah area yang cukup luas, terdapat sumber air yang melimpah juga beberapa pondok warung juga musholah. Tempat ini sangat nyaman di gunakan untuk kemping ceria cukup untuk mendapatkan susana alam yang asri dan sejuk. Kami beristirahat di pos ini kurang lebih 1 jam, setelah melepas lelas dan sholat dzuhur kami lanjutkan perjalanan kembali ke pos berikutnya. Target kami bisa berkemah di pos 6 atau di sebut juga pos Pasanggrahan.

Jalur setelah pos Cigowong memang relatif menanjak, tapi dengan jalan setapak yang jelas dan cukup landai. Jalur setapak dari palutungan ini menurut saya cukup tertata rapi dan nyaman, pemandangan yang hijau dan suasana yang sejuk sangat mengasyikkan bagi para pendaki. Betul-betul memberikan kesegaran yang mantabbb..

Dari pintu masuk Palutungan kita akan melalui 8 pos sampai di Puncak Ciremai. Antara lain : Pos 1 Cigowong, Pos 2 Kuta, Pos 3 Pangguyangan Badak, Pos 4 Arban, Pos 5 Tanjakan Asoy, Pos 6 Pasanggrahan, Pos 7 Sanghyang Ropoh, Pos 8 Goa Walet, dan Puncak Ciremai (3078 mdpl). Kami tiba di Pos 6 Pasanggrahan untuk berkemah sekitar pukul 15.30 sore. Setelah duduk melepas lelah sejenak, kamipun segera mendirikan tenda, memasak makanan dan beristirahat untuk mempersiapkan energi untuk muncak esok paginya. Infonya di Pasanggrahan ini banyak babi hutannya, tapi waktu itu Alhamdulillah kami tak menemuinya..

Pagi hari menjelang, ketika matahari masih malu menampakkan sinarnya kami bergegas bergerak menapaki jalur menanjak menuju puncak Ciremai. Tanpa beban keril di punggung cukup membantu dalam pergerakan walaupun tetap saja kelelahan melanda, kami terus melangkah perlahan. Semakin ke atas pemandangan yang tersaji begitu mempesona. Seolah atap yang terbuka lebar sehingga menampakkan keindahan lembah, hutan dan awan yang berarak terlihat jelas. Angin berhembus kencang terasa dingin tapi berimbang dengan hangatnya matahari yang semakin terang.

Jalur yang terbuka mulai di dominasi oleh bebatuan. Tumbuhan semakin jarang membuka cakrawala pemandangan. Pos Gua Sanghyang Ropoh kami lalui dengan lancar. Kami terhenti sejenak di Pos Gua Walet yang terkenal. Goa yang berada di lembahan agak unik padahal ini ada di puncak gunung. Kenapa dinamakan gua walet? Apakah mungkin dulu menjadi sarang burung walet ? di tempat yang setinggi ini ?… entahlah.. jika ada yang tahu tulis di komen yaa…

Tidak berapa lama setelah melalui Goa Walet, kami tiba di Puncak Ciremai. Panorama yang indah dari ketinggian berhias kawah ciremai yang cukup luas, langit biru dengan garis putih menambah keindahan pagi itu. Angin bertiup kencang terimbangi dengan hangatnya sinar matahari yang bersinar cerah. Kami istirahat dan berbincang sambil menikmati suasana Puncak Ciremai. Kami bersyukur pada Allah Sang Pencipta Alam Semesta, bahwa kami masih diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki kami di atap tertinggi Jawa Barat. Alhamdulillah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *